Template Information

Latest Post

q

Written By Faesal Herlambang on Kamis, 06 Februari 2014 | 03.14

thumbnailAFP
Banyak yang berkata Andre Villas-Boas berhasil melakukan taktik one-man team dengan baik musim lalu. Caranya adalah dengan memindahkan Gareth Bale, yang awalnya berposisi sebagai bek kiri ke tengah, dan menjadikan Bale pusat permainan Spurs.

Jadi, bagaimana cara merancang one-man team secara taktik? "Tentunya hal ini tergantung dari pemain seperti apa yang kamu miliki," ujar Dave Merrington, eks pelatih yang kini jadi komentator radio BBC. Pada kasus Villas-Boas, ia berhasil mempertahankan formasi favorit 4-2-3-1-nya Spurs dan menukar Bale dengan salah satu dari Clint Dempsey, Gylfi Sigurdsson, dan Lewis Holtby secara bergantian. Bale, yang merupakan pemain kidal, membuat posisi-posisi ini menjadi interchangeable.

Lain hal dengan Lionel Messi yang sering beroperasi dengan sistem 4-3-3 di Barcelona. Awalnya ia bermain sebagai penyerang kanan, kemudian melakukan cut inside dan memindahkan bola ke kaki kirinya. Sementara kini ia sudah bisa menjadi "false 9" dengan peran yang lebih mendapat kebebasan.

Tim Argentina pada Piala Dunia 1986 juga melakukannya. Tim ini berbasis solid 3-5-2 dengan kehadiran si jenius Diego Maradona yang dianugerahi kebebasan lebih.

Namun yang perlu diketahui juga, membangun tim di sekitar satu pemain istimewa membutuhkan waktu yang lama, berjam-jam, berhari-hari, dan berminggu-minggu pada sesi latihan. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang dimiliki manajer pada level negara/tim nasional. Itulah yang membuat banyak pemain jenius ini terlihat sedikit kesulitan pada level internasional, ya terkecuali pada tim Carlos Bilardo tentunya.

Bagaimana Cara Menghadapi One-Man Team?

"Jika saya adalah seorang manajer dan harus menghadapi tim dengan pemain yang luar biasa, maka saya harus memiliki marker yang bagus. Saya akan menjaganya bahkan sampai keluar lapangan sekalipun," ujar Merrington.

Salah satu contoh terkenal kasus "10 vs 10" adalah pada Final Piala Liga tahun 1997, yang berakhir dengan pertandingan replay. Pada kedua pertandingan final itu, manajer Leicester City, Martin O'Neill, membuat Pontus Kaamark menempel playmaker Middlesbrough, Juninho, seperti lem tikus.

Kaamark menyebut taktik tersebut "tidak bermoral". Namun, taktik itu terbukti ampuh. Pada akhirnya The Foxes pun berhasil memenangi pertandingan replay dengan skor 1-0. "Juninho adalah perancang, pencetak gol, dan ruh tim. Jadi hal itu memiliki dampak yang besar untuk pertandingan," ujar eks gelandang Middlesbrough, Robbie Mustoe.

Dengan Fabrizio Ravanelli di depan, Boro sebenarnya bukanlah one-man team yang murni. Tapi, dengan matinya Juninho, berarti striker Italia itu tidak memiliki amunisi dan tidak ada yang melayaninya.

Jerman Barat juga melakukan hal yang sama ketika Berti Vogts menyuruh timnya untuk menempel ketat Johan Cruyff pada Final Piala Dunia 1974.

Bagaimana Menghentikan One-Man Team?

thumbnailAFP
Banyak yang berkata Andre Villas-Boas berhasil melakukan taktik one-man team dengan baik musim lalu. Caranya adalah dengan memindahkan Gareth Bale, yang awalnya berposisi sebagai bek kiri ke tengah, dan menjadikan Bale pusat permainan Spurs.

Jadi, bagaimana cara merancang one-man team secara taktik? "Tentunya hal ini tergantung dari pemain seperti apa yang kamu miliki," ujar Dave Merrington, eks pelatih yang kini jadi komentator radio BBC. Pada kasus Villas-Boas, ia berhasil mempertahankan formasi favorit 4-2-3-1-nya Spurs dan menukar Bale dengan salah satu dari Clint Dempsey, Gylfi Sigurdsson, dan Lewis Holtby secara bergantian. Bale, yang merupakan pemain kidal, membuat posisi-posisi ini menjadi interchangeable.

Lain hal dengan Lionel Messi yang sering beroperasi dengan sistem 4-3-3 di Barcelona. Awalnya ia bermain sebagai penyerang kanan, kemudian melakukan cut inside dan memindahkan bola ke kaki kirinya. Sementara kini ia sudah bisa menjadi "false 9" dengan peran yang lebih mendapat kebebasan.

Tim Argentina pada Piala Dunia 1986 juga melakukannya. Tim ini berbasis solid 3-5-2 dengan kehadiran si jenius Diego Maradona yang dianugerahi kebebasan lebih.

Namun yang perlu diketahui juga, membangun tim di sekitar satu pemain istimewa membutuhkan waktu yang lama, berjam-jam, berhari-hari, dan berminggu-minggu pada sesi latihan. Hal ini tentu bukanlah sesuatu yang dimiliki manajer pada level negara/tim nasional. Itulah yang membuat banyak pemain jenius ini terlihat sedikit kesulitan pada level internasional, ya terkecuali pada tim Carlos Bilardo tentunya.

Bagaimana Cara Menghadapi One-Man Team?

"Jika saya adalah seorang manajer dan harus menghadapi tim dengan pemain yang luar biasa, maka saya harus memiliki marker yang bagus. Saya akan menjaganya bahkan sampai keluar lapangan sekalipun," ujar Merrington.

Salah satu contoh terkenal kasus "10 vs 10" adalah pada Final Piala Liga tahun 1997, yang berakhir dengan pertandingan replay. Pada kedua pertandingan final itu, manajer Leicester City, Martin O'Neill, membuat Pontus Kaamark menempel playmaker Middlesbrough, Juninho, seperti lem tikus.

Kaamark menyebut taktik tersebut "tidak bermoral". Namun, taktik itu terbukti ampuh. Pada akhirnya The Foxes pun berhasil memenangi pertandingan replay dengan skor 1-0. "Juninho adalah perancang, pencetak gol, dan ruh tim. Jadi hal itu memiliki dampak yang besar untuk pertandingan," ujar eks gelandang Middlesbrough, Robbie Mustoe.

Dengan Fabrizio Ravanelli di depan, Boro sebenarnya bukanlah one-man team yang murni. Tapi, dengan matinya Juninho, berarti striker Italia itu tidak memiliki amunisi dan tidak ada yang melayaninya.

Jerman Barat juga melakukan hal yang sama ketika Berti Vogts menyuruh timnya untuk menempel ketat Johan Cruyff pada Final Piala Dunia 1974.

Anelka dan Lelucon (Tak Lucu) Bernama Quenelle

thumbnailAFP/Ian Kington
Pada fitrahnya, sepakbola adalah olahraga. Adalah permainan. Adalah hiburan.

Lambat laun, semua berubah. Sepakbola telah menjadi alat politik paling efektif bagi rakyat. Bagi rakyat yang hendak menyuarakan asipirasinya, mereka akan datang ke stadion. Karena masyarakat sadar, bahwa tidak semua dari mereka bisa memperjuangkan hak-haknya di meja-meja parlemen.

Lambat laun, semua berubah. Sepakbola dijadikan kendaraan politik bagi mereka yang berkuasa, lewat kelompok-kelompok kepentingan. Oleh mereka yang terlalu dekat dengan sepakbola.

Ingatkah akan pepatah, hanya sahabat terdekatlah yang mampu menusuk kita dari pelukan? Ya, hal itu kini terjadi pada sepakbola kita. Permainan milik rakyat sejagat raya.

Anelka Kena Batunya

Di tengah sepinya bursa transfer, menyeruak kisah dari Nicolas Anelka, striker West Bromwich Albion. Selepas mencetak gol ke gawang West Ham, 28 Desember 2013, Anelka melakukan selebrasi yang dinilai sebagai tindakan ofensif. Selebrasinya dianggap sebagai sebuah selebrasi quenelle, meletakkan satu tangan pada pangkal lengan satunya.

Meski gerakan yang dilakukan pada quenelle sendiri terlihat "biasa-biasa" saja dan semula kurang populer, tapi gestur itu dihubung-hubungkan dengan mantan pembesar Jerman, Adolf Hitler. Padahal, arti harafiah dariquenelle sendiri adalah makanan sejenis donut yang terbuat dari campuran ikan atau daging.

Gestur Anelka katanya terkait dengan Nazi, dan dianggap melecehkan kaum Yahudi. Ya, tindakan Anelka tersebut dianggap sebagai tindakan anti-semitisme. Sebuah tindakan anti-yahudi.

Anelka berkilah. Selebrasi tersebut ia dedikasikan untuk sahabatnya Dieudonne M'bala M'bala, seorang seniman, komedian, dan politikus Prancis. Memang, M'bala M'bala-lah yang pertama kalinya menciptakan dan memperkenalkan quenelle pada publik, pada tahun 2005 silam.

Baik M'bala M'bala maupun Anelka pernah berdalih atas makna salam itu. Menurut mereka, yang menjadi target quenelle adalah para pemilik kemapanan. Tapi itupun sebenarnya hanya bentuk kritikan lain pada kaum Yahudi. Selama ini, yang identik dekat dengan kemapanan dan tampuk kekuasaan, memang Yahudi.
Lantaran sering tampil di depan publik dengan gestur quenelle,Dieudonne;esendiri dicekal oleh pemerintah Prancis. Tuduhannya: anti-semitisme. Selebrasi Anelka yang didedikasikan untuk sahabatnya juga menuai protes.

FA telah melakukan investigasi. Hukuman untuk Anelka akan datang sebentar lagi. Gaya perayaan Anelka dinilai bermuatan politik, sementara FA dan institusi-institusi sepakbola lainnya melarang muatan politik dalam sepakbola. Anelka bersalah!

Anelka dianggap tidak mengamalkan slogan-slogan seperti, respect, kick politic out of football. Anelka telah melanggar HAM, karena Anelka mendukung Nazi yang telah melakukan pembantaian terhadap orang-orang Yahudi.

Tapi efek dari kasus ini tak hanya berimbas pada Anelka. Karena ulah pemainnya itu, West Bromwich Albion pun akan mendapat ganjaran. Mereka diputus oleh salah satu sponsor mereka, Zoopla.

Meskipun tetap akan mendanai WBA sampai akhir musim, Zoopla telah menjatuhkan vonisnya dan menarik diri dari The Baggies. Ini karena WBA jutru acuh atas peringatan keras dari pihak sponsor untuk tak menyertakan Anelka dalam laga-laga WBA. Hasilnya, pada akhir musim, kerja sama Zoopla dengan WBA pun akan terputus.

Hal yang wajar, karena perusahaan search engine property tersebut milik seorang keturunan Yahudi, Alex Chesterman. Tentu pemilik tersebut sangat tersinggung atas tindakan Anelka yang dianggap anti-semitisme.

FA pun tak tinggal diam. FA langsung melakukan investigasi atas tindakan Anelka. Menurut FA, Anelka telah membawa aroma politik dalam sepakbola. Dan itu tentu dilarang. Di belahan dunia manapun, sepakbola harus bersih dari politik. Seolah sudah menjadi keharusan, investigasi FA pun harus berujung sanksi.

FA Turut Serta

Jika induk semangnya (baca: FIFA) saja berpolitik dan sangat dekat dengan para penguasa, tak heran jika FA pun demikian. Maklum, FA juga merupakan bagian kecil dari rezim yang telah dibangun FIFA. Alhasil apa yang dilakukan FA juga tak ubahnya dengan apa yang dilakukan FA.

Begitupun dengan apa yang menimpa Anelka. FA sepertinya kebakaran jenggot dengan kelakuan Anelka. Sebagaimana menanggapi kasus Suarez dan kasus-kasus non-sepakbola lainnya, FA begitu reaktif. Apalagi sang pelaku adalah warga non-Inggris. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada perlakukan berbeda bagi pemain asing yang dikasuskan FA.
Maka beramai-ramailah FA dan media mengangkat kasus ini. Berbagai editorial, artikel, dan pernyataan pun muncul untuk menghujat Anelka. Sebelum kasus Anelka ini naik ke permukaan, tak banyak yang tahu tentang apa itu quenelle. Pasca sorak-sorai media-lah, kita semua mulai larut dalam kasus gesturquenelle.

Hanya dalam waktu relatif singkat –kurang lebih tiga hari—kataquenelle pun demikian populer. Pada 28 Desember 2013, Anelka melakukan gestur quenelle. Sementara pada 30 Desember 2013, quenelle sudah jadi kata ketiga yang paling sering dicari artinya di Google.

Dengan mati-matian menggertak Anelka, FA ingin sekali terlihat netral. Ingin tampak sebagai garda depan dalam membasmi politik dalam sepakbola. Dan FA pun tampaknya ingin menjadikan dirinya sebagai percontohan dalam mengelola sepakbola yang bersih.

Jika federasi sepakbola Spanyol hanya memberikan hukuman denda pada Kanoute atas dukungan untuk Palestinanya, FA ingin tampil lebih galak lagi. Ancaman tidak boleh bertanding selama lima pertandingan pun disebut-sebut sebagai hukuman minimal untuk Anelka. Hukuman ini lebih berat ketimbang Ryan Shawcross yang dilarang main selama tiga laga, karena mematahkan kaki Aaron Ramsey.

Namun tampaknya FA keliru. Setelah tindakan reaktifnya ini kita semua justru tahu kemana tendensi politik FA.

"Ya, ada beberapa orang yang memanfaaatkan nama besar pada olahraga ini, hanya untuk mempromosikan diri mereka sendiri. Ada orang yang hanya muncul di even besar, bukan karena mereka mencintai olahraga ini, namun karena mereka ingin terlihat ada di sana," begitu tutur Arsene Wenger menanggapi terlalu politisnya Liga Inggris.

Maybe The Jokes Are On Us

Pada dua bagian narasi tentang FA dan Anelka di atas, sebenarnya cerita terlihat "mengalir" dengan baik. Ada pemain yang bermasalah, dan ada FA serta media Inggris yang ingin menunjukkan taring kekuasaannya. Ada diskusi tentang bagaimana badan otoritas sepakbola yang (lagi-lagi) menunjukkan sikap politiknya lewat jargon "kick politic out of football" (baca artikel: "Depolitisasi Sepakbola").

Tapi kita belum sampai pada narasi ketiga, yaitu di balik kekisruhan quenelle ini, hanya ada satu pihak yang tertawa bahagia: Dieudonne M'bala M'bala.

Si pencipta gestur ini sebenarnya sudah berusaha mempopulerkan quenelle semenjak lebih dari delapan tahun lalu. M'bala M'bala sering kali meminta para pengikutnya untuk membuat foto berpose quenelle di berbagai belahan Eropa. Dan, sampai akhir Desember 2013 lalu, aksinya itu ya hanya segitu-segitu saja. Bukankah kita belum pernah mendengar nama M'bala M'bala sebelumnya?

Melalui Anelka dan kasusnyalah M'bala M'bala kini berhasil menambah pengaruhnya. Melalui media-media yang mengangkat quenelle-lah, maka jutaan orang mulai meng-google namanya. Ironis. Keinginan FA dan media untuk mendidik publik akan gesture quenelle, justru jadi pemicu yang membuatquenelle lebih terkenal lagi.

Lebih buruk lagi, M'bala M'bala kini berusaha untuk mengkapitalisasi terkenalnya quenelle ini. Salah satu stasiun televisi, France 24, mengabarkan bahwa istri M'bala M'bala sedang mendaftarkan quenelle kepada lembaga hak cipta dan properti di Prancis. M'bala M'bala juga akan meluncurkan merchandisebertemakan quenelle, seperti gelas, gantungan kunci, dan pernak-pernik lainnya.

"Quenelle tidak lagi milik saya. Quenelle adalah milik revolusi," ujar M'bala M'bala.

Jika ucapan ini terdengar seperti lelucon, mungkin memang iya. Alih-alih dikendarai oleh politik, mungkin kali ini sepakbola dikemudikan oleh seorang komedian yang menyatakan dirinya sebagai anti-zionist.

Pada satu sisi, M'bala M'bala seolah telah mengembalikan sepakbola pada khitahnya sebagai suatu hiburan jenaka. Sebagai suatu "permainan". Tapi ini dilakukan atas nama mereka-mereka yang dibantai Nazi puluhan tahun lalu.

Lalu, jika M'bala M'bala pemenangnya, yang kalah mungkin kita.


====

* Akun twitter penulis: @SigtPrasetyo dari @panditfootball

sad

Written By Faesal Herlambang on Rabu, 05 Februari 2014 | 23.10

sadfasf
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. test - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger